Senin, 27 Februari 2017

ajaran tentang manusia



ANTROPOLOGI
OLEH: GIOVANI GLORIA SALEH 


BAB I

PENDAHULUAN


Jika melihat tegnologi-tegnologi pada zaman ini, sangat banyak hal yang diciptakan oleh para ilmuan yang membantu kehidupan manusia saat ini, mungkin dari beberapa ciptaan itu akan didapati dimana terkadang suatu hal yang diciptakan tersebut tidak masuk akal, sangat mengherankan mengapa hal itu bisa terjadi.
Berbicara tentang bingung, seandainya saat ini ada pertanyaan menanyakan dari manakah manusia berasal? Mengapakah manusia bisa berbentuk seperti ini? Bagaimana sejarahnya? Mungkin akan lebih membingungkan lagi daei pada masalah tegnologi. Sudah sejak dahulu para ilmuan mempelajari hal ini, membuat teori-teori tentang asal mula manusia, sehingga dari sekian banyak ilmuan yang memperdebatkan asal-usul manusia, manusiapun semakin bingung dengan pembahasan teori-teori itu.

Dalam karya tulis ini penulis akan membahas tentang asal-usul manusia melalui berbagai teori, dan pada intinya penulis akan membahas sepuluh teori tentang asal-usul manusia, termasuk dua teori besar yaitu teori evolusi dan teori Alkitab. Dalam karya tulis ini juga penulis akan memberikan penjelasan tentang teori yang manakah yang benar dari antara sepuluh teori tersebut.






BAB II

ASAL-USUL MANUSIA


Jika memikirkan keberadaan sebagai manusia maka setiap orang akan memiliki kepercayaan sendiri akan asal mula atau kreasi keberadaan manusia. Tapi dari begitu banyaknya manusia di dunia ini, tentu tidak semuanya mempercayai teori yang sama. Berikut ini adalah sepuluh teori asal mula keberadaan manusia, walaupun setiap orang sudah memiliki kepercayaan sendiri mengenai bagaimana asal mula terbentuknya manusia.

Intelligent Design
Intelligent Design atau Perancangan Cerdas mengatakan bahwa “manusia sebagai mahluk yang kompleks tidak dapat dijelaskan dalam sebuah teori yang tidak terarah seperti seleksi alam (evolusi). sebagai manusia dapat dijelaskan dalam sebuah teori yang lebih pintar.”[1] “Jika setiap orang kurang dapat memahami penjelasan itu, maka bayangkan nenek moyang manusia menemukan iPad di perjalanannya, kemungkinan besar ia akan mengenali hal tersebut sebagai objek yang dibuat oleh manusia walaupun ia tidak tahu apa sebenarnya benda itu. Kaitannya dengan teori ini adalah, peneliti diibaratkan sebagai nenek moyang dan manusia sekarang diibaratkan sebagai iPad tersebut.”[2] Intinya Intelligent Design mengatakan bahwa manusia dibuat oleh keberadaan yang sangat luar biasa jenius.


Morphic Resonance
“Seorang mantan professor biokimia di Universitas Cambridge, menciptakan sebuah teori yang berbeda dari yang lain. Ia mengatakan bahwa sebenarnya ada sebuah medan tidak terlihat yang membuat kita melihat hal-hal yang sama, seperti bintang dan alam semesta. Jadi semua yang ada di dunia ini sebenarnya merupakan hal yang telah disepakati secara telepati bahwa mereka benar-benar ada.”[3]

Cosmic Ancestry
Jika teori-teori lain mengatakan bahwa alam semesta ini memiliki awal yang pasti, baik itu melalui penciptaan Tuhan atau Big Bang, maka tidak bagi Teori Cosmic Ancestry. “Teori ini mengatakan bahwa kehidupan dan alam semesta ini memang dari awal selalu ada.”[4] Lalu bagaimana menjelaskan mengenai dinosaurus, mikroba dan sejenisnya? “Teori ini mengatakan bahwa karena mikroba merupakan hal yang pasti selalu ada di dunia ini, maka mikroba ini membawa sisa-sisa akan kehidupan modern di alam semesta, manusia berevolusi untuk mengikuti kehidupan modern tersebut. Seperti halnya mikroba tersebut mengikuti kehidupan awal mula seperti dinosaurus dan seterusnya.”[5] Karena alam semesta ini akan selalu ada, maka hal ini akan selalu terjadi selamanya dan terus menerus.





Ancient Astronaut
Ide umum dari teori ini adalah alien datang ke bumi berjuta-juta tahun yang lalu dan menabur kehidupan, baik untuk tujuan masa depan atau ketidaksengajaan. “ Uniknya, orang-orang yang mempercayai teori ini juga mengatakan bahwa bangunan Piramid dan hal-hal serupa adalah bukti bahwa Alien-lah yang mengarahkan perkembangan evolusi manusia, bahkan teori lain yang berdasar dari teori ini mengatakna bahwa Dewa-dewa dari hampir seluruh agama adalah sebenarnya mahluk terestial (alien).”[6]

Progressive Creationism
Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Bumi dan isinya selama 6 hari kemudian di hari ketujuh Ia menguduskannya. Tapi yang tidak orang tahu adalah masing-masing dari hari itu sebenarnya adalah jutaan tahun dan berisikan banyak evolusi.
“Inilah yang diusulkan di teori Progressive Creationism (Penciptaan Progresif).
Teori ini mengatakan bahwa Tuhan membuat bumi secara perlahan-lahan dimana tanaman dan hewan membutuhkan waktu untuk beradapatasi agar mereka dapat cocok dengan kehidupan di dunia.”[7] Intinya teori ini mengatakan bahwa tidak ada spesies yang secara langsung tiba-tiba muncul sebagai bentuk yang baru. Jadi teori ini sebenarnya juga adalah teori evolusi.

Punctuated Equilibirium
“Teori ini mengatakan bahwa jika evolusi adalah sebuah proses yang bertahap maka seharusnya penemuan-penemuan fosil memberikan manusia banyak fosil yang menunjukkan proses transisi tersebut.”[8] Tapi pada kenyataannya hal tersebut tidak ada. Ini karena evolusi sebenarnya terjadi dalam sebuah proses yang sangat mendadak dan cepat.
“Sesudah bertahan selama jutaan atau bahkan miliaran tahun, perubahan lingkungan menyebabkan sebuah spesies mengalami evolusi tersebut. Karena adanya perubahan lingkungan, maka hanya si mahluk baru inilah yang dapat bertahan hidup sedangkan nenek moyangnya muncul dalam bentuk fosil.”[9]

Scientology
“Teori ini mengatakan bahwa manusia berevolusi dari burung ke hewan lainnya lalu ke monyet, sebelum menghabiskan waktu ribuan tahun sebagai manusia purba.”[10] Karena manusia merupakan produk dari berbagai hewan yang ada sebagai hasil evolusi dari satu hewan ke hewan lainnya dan berakhir sebagai manusia. Maka itu jugalah yang menyebabkan mengapa kita memiliki kepribadian yang unik dibandingkan hewan lainnya, dimana kita mengalami perasaan yang tidak dialami hewan lainnya.

Theistic Evolution
Theistic Evolution adalah salah satu dari 3 teori utama yang menjelaskan mengenai asal mula manusia. Dua lainnya adalah teori evolusi Darwin (teori atheistic) dan teori penciptaan khusus (agama). Teori ini sebenarnya serupa dengan progressive creationism.
Jika para pemercaya agama mengatakan bahwa evolusi menentang keberadaan Tuhan, maka Theistic Evoluton adalah teori yang menerangkannya. “Ide utamanya tetap Tuhan yang menciptakan alam semesta dan isinya, hanya saja kali ini Ia menciptakannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan, yaitu Big Bang, fisika kuantum dan seterusnya.”[11]
Menurut teori ini alam semesta ini merupakan hasil dari Tuhan sebagai professor menggabungkan berbagai jenis atom dalam laboratorium suci pengetahuan-Nya. Teori ini membuat para pemercaya agama tidak lagi menghabiskan waktu mereka berdebat akan agama dan pengetahuan, karena teori ini menjadi penjelasannya.

Teori Evolusi Darwin
Salah satu teori yang paling dikenal mengenai keberadaan manusia, dimana ia mengatakan bahwa manusia sebenarnya berasal dari monyet yang berevolusi dalam jangka waktu lama hingga menjadi manusia purba dan manusia purba tersebut berevolusi lagi menjadi manusia modern seperti manusia ini. Semua evolusi tersebut memakan jangka waktu yang sangat lama. Ini adalah teori yang melambangkan pengetahuan di mata para ilmuwan.

Penciptaan Khusus (Agama)
Ini adalah teori penciptaan seperti pada di agama-agama dimana “Tuhanlah yang menciptakan Bumi dan alam semesta serta manusia di dalamnya dalam waktu 6 hari 24 jam setiap harinya. Dimana Bumi sebenarnya hanyalah berumur 6.000 tahun dan Tuhan menciptakan setiap halnya secara khusus benar-benar untuk hal tersebut,”[12] berbeda halnya dengan teori evolusi yang mengatakan bumi berumur miliaran tahun. Teori ini dipercaya oleh banyak orang sesuai dengan jumlah orang yang percaya dengan agama-agama utama di dunia ini. Teori inilah yang melambangkan agama, dan membuat perseteruan tiada akhir antara teori darwin dengan teori ini sendiri.


[1]Yusuf Randi, Teori Dasar Asal Usul Manusia, http://www.sacred.com/index.html, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[2]Ishak coeng, Teori-teori Asal Usul Manusia, http://tahupedia.com, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[3]Yusuf Randi, Teori Dasar Asal Usul Manusia, http://www.sacred.com/index.html, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[4]Ibid.

[5]Ibid.
[6]Ishak coeng, Teori-teori Asal Usul Manusia, http://tahupedia.com, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[7]Ibid.

[8]Ibid.

[9]Ibid.

[10]Ibid

[11]Ishak coeng, Teori-teori Asal Usul Manusia, http://tahupedia.com, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[12]Ibid.








BAB III

PERBANDINGAN DUA TEORI BESAR


Ada berbagai teori yang membahas tentang manusia dan yang paling mencolok yaitu teori evolusi dan teori Alkitab. Memang benar bahwa setiap manusia memiliki pandangan tersendiri tentang asal-usul manusia namun jika semua teori-teori tersebut dikumpulkan maka sebagian besar teori-teori tersebut akan mengacu pada dua teori besar ini. Kedua teori ini akan penuls bahas satu persatu.

Asal-usul manusia menurut teori evolusi
Louis Berkhof mengatakan dalam bukunya bahwa :
Teori evolusi tidaklah selalu dinyatakan dalam bentuk yang sama. Teori ini kadang-kadang disebutkan seolah-olah manusia adalah keturunan langsung dari salah satu spesies manusia kera yang sekarang ini ada dan seolah-olah manusia dan kera yang lebih tinggi mempunyai nenek moyang yang sama. Akan tetapi betapapun ada beberapa hal berbeda dengan hal ini, datu hal yang pasti adalah bahwa menurut evolusi naturalistik yang masih terus ada, manusia melalui sebuah proses alamiah yang sempurna, yang diatur secara langsung oleh kekuatan yang terus menerus.[1]
Teori ini adalah teori yang paling masuk akal dalam ilmu pengetahuan dan itu berarti teori inilah yang menjadi tolak pikir manusia saat ini sehingga teori ini sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Jika disederhanakan, teori evolusi mengatakan bahwa manusia itu berasal dari sejenis binatang bertulang beakang yang berubah seiring denga berjalannya waktu selama ribuan tahun. Evolusi sendiri
berarti “perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan.”[2] Jadi manusia itu tercipta karena adanya perubahan secara perlahan-lahan atau berangsur-angsur dari mahluk hidup sebelumnya.

Sejarah teori evolusi

“Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafatfilsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke19.
Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini , memunculkan "teori evolusi" dipertengahan abad ke19.
“Darwin Orang yang mengemukakan teori evolusi sebagaimana yang dipertahankan dewasa ini, adalah seorang naturalis amatir dari Inggris, CharlesRobertDarwin. Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi.Ia hanya memiliki ketertarikan amatir pada alam dan makhluk hidup.Minat tersebut mendorongnya bergabung secara sukarela dalam ekspedisi pelayaran dengan sebuah kapal bernama H.M.S.Beagle,yang berangkat dari Inggris tahun 1832 dan mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun.”[3]
Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup,terutama jenisjenis burung finch tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paruh burungburung tersebut disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat.
Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep "adaptasi terhadap lingkungan". Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.
Hipotesis Darwin tidak berdasarkan penemuan atau penelitian ilmiah apapun, tetapi kemudian ia menjadikannya sebuah teori monumental berkat dukungan dan dorongan para ahli biologi materialis terkenal pada masanya. Gagasannya menyatakan bahwa individuindividu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan sifatsifat mereka kepada generasi berikutnya.
Sifatsifat yang menguntungkan ini lamakelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya. Menurut Darwin, manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme ini. Darwin menamakan proses ini "evolusi melalui seleksi alam". Ia mengira telah menemukan "asal usul spesies" suatu spesies berasal dari spesies lain.
“Darwin sadar bahwa teorinya menghadapi banyak masalah. Kesulitan- kesulitan ini terutama pada catatan fosil dan organorgan rumit makhluk hidup (misalnya mata) yang tidak mungkin dijelaskan dengan konsep kebetulan, dan naluri makhluk hidup. Darwin berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuanpenemuan baru; tetapi bagaimanapun ia tetap mengajukan sejumlah penjelasan yang sangat tidak memadai untuk sebagian kesulitan tersebut.”[4]
Saat menyusun teorinya, Darwin terkesan oleh para ahli biologi evolusionis sebelumnya, terutama seorang ahli biologi Perancis, Lamarck. Menurut Lamarck, makhluk hidup mewariskan ciriciri yang mereka dapatkan selama hidupnya dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga terjadilah evolusi. Sebagai contoh, jerapah berevolusi dari binatang yang menyerupai antelop. Perubahan itu terjadi dengan memanjangkan leher mereka sedikit demi sedikit dari generasi ke generasi ketika berusaha menjangkau dahan yang lebih tinggi untuk memperoleh makanan. Darwin menggunakan hipotesis Lamarck tentang "pewarisan sifatsifat yang diperoleh" sebagai faktor yang menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Sejak abad ke6 ,para ahli sudah mencoba mengemukakan pendapatnya tentang alam. Beberapa pandangan teori evolusi menurut beberapa ahli sebagai berikut:
“Erasmus Darwin
Menyatakan bahwa makhluk hidup berawal dari asal mula yang sama dan respon fungsional di wariskan kepada keturunannya.
Count de Buffon
 Menyatakan bahwa variasi kecil yang terjadi karena pengaruh lingkungan diwariskan pada keturunannya sehingga terjadi penimbunanvariasi.
George Cuvier
 Menyatakan bahwa setiap masa diciptakan makhluk hidup yang berbeda.
Jean Baptist de Lamarck
Mengemukakan teori evolusi yang dikenal dengan “Ussed and Disused”. Lamarck mengemukakan teori evolusi dengan 2 ajarannya yaitu bahwa organ tubuh makhluk hidup yang digunakan akan berkembang, sedangkan yang tidak digunakan akan menyusut dan perbedaan sifat yang diperoleh dari pengaruh lingkungan diwariskan kepada keturunannya.
A.Weisman
Melakukan percobaan dengan memotong ekor tikus sampai 20 generasi,ternyata generasi ke 21 tetap berekor panjang. Dari hasil percobaan ini Weisman membantah membantah teori Lamarck dan menyatakan bahwa evolusi adalah seleksi alam terhadap faktor genetik.”[5]
Setelah itu bermunculan pendapat dari para ahli biologi lainnya. Para ahli
dimiliki oleh nenek moyangnya. Tetapi pada generasi selanjutnya, biologi menyatakan bahwa makhluk hidup senantiasa mengalami perubahan secara berangsur – angsur dalam waktu yang cukup lama.
Perubahan – perubahan itu mengakibatkan munculnya sifat baru. Sifat–sifat baru ini pada mulanya hanya menunjukkan penyimpangan sedikit saja dari sifatsifat yang penyimpanganpenyimpangan itu semakin banyak sehingga timbullah species baru.

Argumen pendukung teori evolusi

Ada beberapa argumen yang mendukung teori evolusi diantaranya anatomi perbandingan, organ-orga tertinggal, embriologi, biokimia, paleotologi an genetika. Namun penulis hanya akan membahas beberapa argumen saja karena hal itulah yang paling berpengarh terhadap teori ini.
Yang pertama adalah anatomi perbandingan, “terdapat kesamaan-kesamaan mencolok antara anatomi manusia dengan anatomi hewan bertulang belakang dari golongan yang lebih tinggi.”[6] Anatomi perbandingan dapat diketahui bahwa alat - alat fungsional pada berbagai binatang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: “homologi dan analogi. Homologi adalah alat tubuh yang mempunyai bentuk yang berbeda dan fungsinya berbeda namun kalau diteliti mempunyai bentuk dasar yang sama. Misalnya:sirip ikan paus fungsinya untuk berenang, homolog dengan kaki depan kuda yang fungsinya untuk terbang. Analogi adalah alat tubuh yang mempunyai bentuk dasar yang berbeda namun karena perkembangan evolusi yang konvergen alat-alat tersebut mempunyai fungsi yang sama.”[7]
Yang kedua adalah organ-organ yang tertinggal, alat alat ini sudah tidak berguna namun ternyata masih dijumpai. “Di dalam tubuh kita ditemukan organ-organ, misalnya amandel, usus buntu, serta kelenjar timus yang menurut golongan evolusionis diperlukan ketika manusia modern dalam tahap perubahan”[8]
Yang ketiga adalah embriologi, “janin manusia  berkembang melalui aneka tahap yang sejajar dengan tahap yang disebut evolusioner.”[9] Urutan tahapan perkembangan embrio dari hewan–hewan tingkat tinggi adalah: zigot-morula-blastula-gastrula-kemudian mengalami diferensiasi dan spesialisasi membentuk organ. Perkembangan individu mulai dari sel telur dibuahi (zigot) hingga individu sampai dewasa bahkan sampai mati disebut ontogeni. Terdapat kesamaan tahap – tahap perkembangan embrio hewan –hewan vertebrata sampai pada tahap tertentu.
Yang keempat adalah Fosil. “Fosil sebagai catatan sejarah evolusi makhluk hidup. Fosil adalah sisa atau jejak dari makhluk hidup yang telah membatu. Contoh fosil yang paling lengkap ditemukan dari zaman ke zaman adalah fosilkuda. Perubahan yang terjadi pada spesieskuda antara lain: leher semakin panjang dan gerakan makin lincah kepala semakin panjang,jarak ujung mulut dengan mata semakin panjang. Tubuh kuda semakin besar. Geraham muka dan belakang bertambah besar sesuai untuk mengunyah rumput. Anggota tubuh semakin panjang,dapat berlari cepat,rotasi tubuh semakinberkurang. Jumlah jari kaki pada mulanya 5,sekarang tingal 1 jari saja.”[10]
Yang kelima adanya variasi individu dalam satu keturunan Dari proses hibridasi dapat menghasilkan bermacam-macam varian. Apabila proses itu berlangsung terus-menerus dalam waktu yang sangat panjang akan terbentuk sangat banyak variasi-variasi, akibatnya keturunannya akan mempunyai sifat yang menyimpang jauh dengan nenek moyangnya.
Yang keenam yaitu fosil hidup. “penelitian adanya fosil hidup dengan umur awal sampai jutaan tahun lalu, benarbenar membuktikan bahwa teori evolusi (hipotesis) atau neo-darwinisme atau lompatan evolusi tidak berlaku pada hewan yang bernama Coelacanth.”[11]
Yang ketujuh, adanya pengaruh penyebaran geografi. Burung –burung finch di kepulauan Galapagos semula berasal dari daratan Amerika Selatan,kemudian menemukan lingkungan yang baru yang berbeda dengan asalnya. Varian–varian yang menemukan lingkungan baru itu terus berkembang sehingga menghasilkan spesies baru dan tidak dapat mengadakan inter hibridasi dengan moyangnya.
Namun begitu, tetap saja semua itu belum tentu selalu dibenarkan oleh semua orang, selalu saja ada yang menolak argumen-argumen tersebut.


Argumen yang menolak teori evolusi

Teori yang telah dipikrkan sedemikian rupa itu tentu saja menimbulkan keberatan-keberatan.
Pertama “bahwa teori ini tidak mempunyai dasar yang cukup di atas fakta yang pasti. Kita harus senantiasa ingat bahwa teori evolusi secara umum walaupun secara umum menyebut diri sendir doktrin yang sudah mantab, sampai saat inipun sebenarnya masih berupa hipotesa kerja yang belum terbukti kebenaranya, dan hipotesa ini sendiri tidak memberikan janji bahwa kebenaranya akan terbukti.”[12]

Yang kedua, “dari sudut pandang Teologi keberatan terbesar terhadap teori ini dikarenakan pendapat teori evolusi jelas bertentangan dengan ajaran yang jelas dari Firman Tuhan. Alkitab menegaskan bahwa Allah membentuk manusia dari debu tanah (Kej. 2:7).”[13] Sama sekali tidak ayat yang mejelaskan bahwa manusia itu awal mulanya berasal dari binatang atau sejenisnya, Alkitab mencatat “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situla engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu,”[14] bukan kembali menjadi kera, jadi teori evolusi itu salah bagi umat Kristen. Banyak umat Kristen yang akhirnya bingung dengan teori ini dan kemudian menjadi bimbang dengan Alkitab. “Paus Pius XII dalam inskliknya berjudul Humani Generis (1950) mengatakan, “ajaran Gereja membiarkan ajaran evolusi sebagai suatu masalah yang terbuka, selama ajaran-ajaran ini membatasi teorinya pada perkembangan tubuh manusia yang dijadikan dari zat hidup lainnya yang sudah ada.”[15]
Menurut Jurgen Moltman, ada tiga jenis antropologi, yaitu antropologi biologis, kultural dan antropologi agama.”[16] “menurut Moltmann manusia adalah mahluk yang manusiawi sebagaimana yang terlukis pada salib. Tetapi persoalannya adalah apakah manusia dapat membuat dirinya manusiawi? Bagaimanakah manusia menjadi manusiawi?.”[17] Menurutnya manusia bukan hanya nyata tapi manusia juga adalah suatu nilai yang ideal.


Asal-usul manusia menurut Alkitab

Di dalam Alkitab ada dua bagian yang mejelaskan tentang penciptaanm yaitu dalam “Kej. 1:26, 27 dan Kej. 2:7, 21-23. Penganut kritik tinggi (higher critism) berpendapat bahwa penulis kitab Kejadian (menyatukan) dua buah cerita tentang penciptaan,”[18] penciptaan yang pertama adalah penciptaan yang tercatat dalam Kej. 1- 2:3, penciptaan yang kedua yang tercatat dalam Kej. 2:4-25; menurut mereka, kedua catatan ini berdiri sendiri bahkan saling bertentangan. Hal tersebut memang benar karena pada bagia yang pertama yaitu pada Kej. 1-2:3 bercerita tentang penciptaan segala sesuatu, sedangkan yang kedua yaituKej. 2:4-25 bercerita tentang hubungan penciptaan dengan manusia, tanpa bermaksud menjelaskan apapun tentang susunan kronologis penciptaan itu sendiri. Ada beberapa hal khusus yang membedakan penciptaan khusus manusia berbeda dengan ciptaan yang lain, yaitu “penciptaan manusia didahului oleh suatu pertimbangan yang agung” (Kej. 1:26), penciptaan manusia ada dalam pengertian paling sempit kata ini adalah tindakan Allah secara langsung, manusia diciptakan menurut contoh Illahi, dua elemen berbeda dari natur manusia jelas dibedakan (Kej. 2:7), manusia ditempatkan dalam kedudukan mulia.”[19]
Ketika manusia menciptakan manusia, Ia berkata “marilah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita,”[20] dan “ketika itu Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas kehidupan kedalam hidungnya,”[21] manusia itu diciptakan langsung oleh Allah, oleh tangan Allah sendirilah manusia itu terbentuk, Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan menggunakan ciptaan-Nya yang lain kemudian ciptaa tersebut berubah atau berevolusi menjadi manusia. Jika memeang benar Allah tidak secara langsung menciptakan manusia, berarti pada saat penciptaan Allah membuat sejenis binatang yang Alkitab sebut manusia, bukan manusia seperti sekarang ini.

Argumen yang mendukung penciptaan manusia secara langsung

Bila Alkitab ditafsirkan secara harafiah maka dari situ dapat muncul penjelasan yang masuk akal, Alkitab menjelaskan dalam “Kejadian 1:27; 5:1; Ulangan 4:32; Mazmur 104:30; Yesaya 45:12; 1 Korintus 11:9, bahwa manusia ciptakan oleh Allah,”[22] Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa manusia ada dari proses perubahan dari ciptaan sebelumnya, atau menciptakan binatang bernama manusia. Sangatlah jelas ayat-ayat ini menjelaskan awal dari penciptaan manusia bahkan prosesnyapun Alkitab jelaskan denga sangat baik sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk membenarkan teori lain, kemudian dalam “Kejadian 1:26; 2:22; 6:6-7; Mazmur 100:3; 103:14; 1 Timotius 3:13 bahwa Allah menjadikan dan membentuk manusia.”[23] Mengenai tubuhnya, manusia diciptakan dari debu tanah, dan mengenai jiwanya, diciptakan dari nafas Allah, “hal ini terdapat dalam Kejadian 2:7; Ayub 33:4; Pengkhotbah 12:7.”[24]
Dalam Kejadian 1:27 dijelaskan juga bahwa Adam dan Hawa diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, seandainya saat itu Allah menciptakan manusia bukan dalam bentuk manusia pastilah Alkitab akan menyebutnya jantan dan betina. Ketika manusia diciptakan maka manusia menjadi mahluk hidup. Manusia bukan mahluk hidup yang lahir dari mahluk hidp sebelumnya, ia langsung menjadi mahluk hidup tersendiri. “Alkitab membedakan antara daging manusia dan daging hewan, dalam 1 Korintus15:39 dijelaskan bahwa Rasul Paulus tidak mengijinkan ada percampuran antara daging manusia dan daging hewan.”[25]
Penciptaan manusia adalah penciptaan yang unik dam khusus, karena manusia diciptakan pada hari terakhir, puncak dari segala penciptaan di bumi dan Allah sendiri yang mengatakan bahwa “itu adalah amat baik” (Kej. 1:31). Alkitab bahwa manusia bukanlah produk evolusi tapi manusia adalah “buatan langsung tangan Allah”[26] dan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kesamaan itu bukan dalam artian kesamaan fisik tetapi kesamaan spiritual, natural dan moral. Kesamaan spiritual yaitu manusia yang telah menjadi manusia baru dimungkinkan untuk dapat bersekutu dengan Allah, kesamaan secara natural, manusia memiliki akal budi, emosi dan kehendak untuk menjalani hidupnya sendiri dan kesamaan moralnya manusia dapat mengtahui dan menaati kehendak Allah.

Kesatuan manusia

Oleh karena manusia diciptakan oleh satu pencipta maka itu berarti semua umat manusia diciptakan oleh “satu pasangan tunggal”[27] yang kemudian terpecah seperti yang dikatakan dalam sejarah menara Babel.
Beberapa arugumen yang mendukung kesatuan umat manusia adalah, sejarah bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa di dunia yang membuktikan adanya asal-usul nenek moyang yang sama. Bukti adanya keseragama bahasa berkaitan dengan ilmu bunyi bahasa, susunan tata bahasa dan perbendaharaan kata. Pernikahan antar bangsa meghasilkan keturunan baru. Setiap manusai memiliki sifat-sifat mental dan moral manusia yang sama.

Struktur manusia
Secara umum manusia memiliki sifat-sifat jasmani dan rohani. Jasmani ialah tubuh dan rohani ialah jiwa dan rohnya. Secara khusus manusia meiliki empat unsur yaitu nyawa atau jiwa, roh, daging dan tubuh. Nyawa yaitu diri atau kepribadian manusia, roh yaitu kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan Allah, daging yaitu kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan iblis dan tubuh yaitu bentuk bagi nyawa atau jiwa atau diri manusia.
Ada beberapa hal yang sering dibandingkan yaitu tentang manusia rangkap dua (dikotomi) atau rangkap tiga (trikotomi). Dikotomi adalah pandangan yang beranggapan bahwa manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa saja. Sedangkan trikotomi itu adalah pandangan bahwa manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Gereja-gereja barat umumnya menerima dikotomis, sedangkan Gereja-gereja barat umumnya menerima trikotomis. Sebaliknya Alkitab memandang manusia sebagai suatu pribadi yang rumit dan tegang. Manusia sebagai pribadi yang rumit karena memiliki roh, tubuh dan daging dalam satu jiwa atau nyawa. Manusia disebut pribadi yang tegang karena unsur-unsur yang dipersatukan dalam diri manusia itu saling bertentangan satu sama lain. Paulus mengatakan suratnya kepada jemaat di Roma tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”[28]
Jadi sebanarnya manusia merangkap semuanya itu, dan setiap bagian tersebut memiliki fungsinya masing-masing sehingga sebenarnya hal tersebut tidak bisa dipisakan, karena manusia terbentuk dari beberapa hal tersebut. Sebagai umat Kristen seharusnya tahu apa yang dapat dipercaya dan yang tidak dapat dipercaya tentang teori-teori itu.


[1]Louis Berkhof, Teologi Sistematika, pen. Yudha Thianto, (Surabaya: momentum, 1994). 9.
[2]Kamus Besar Bahasa Indonesia Elektronik, (KBBI), 11-11-2016.

[3] http//www.mistake.com/sejarah-evolusi/plus, diakses tanggal 12 Oktober 2016.
[4] http//www.mistake.com/sejarah-evolusi/plus, diakses tanggal 12 Oktober 2016.


[5] http//www.mistake.com/sejarah-evolusi/plus, diakses tanggal 12 Oktober 2016.


[6]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 233.

[7]http://www.google.com/darwinvsagama/index.htm, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[8]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 233.

[9]http//www.ipaclass.com/sejarah_evolusi/blogku, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[10]Ibid.
[11]http//www.ipaclass.com/sejarah_evolusi/blogku, diakses tanggal 12 Oktober 2016.

[12]Louis Berkhof, Teologi Sistematika, pen. Yudha Thianto, (Surabaya: momentum, 1994), 11.

[13]Ibid, 12.

[14]Kejadian 3:19.

[15]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Yayasan Penerbit Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 232.

[16]Jacobus Soleiman Siwalette, Manusia Menurut Jurgen Moltmann, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 22.

[17]Ibid, 28.

[18] Louis Berkhof, Teologi Sistematika, pen. Yudha Thianto, (Surabaya: momentum, 1994), 4.
[19] Ibid, 6-8.

[20]Kejadian 1:26.

[21] Kejadian 2:7.

[22]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Yayasan Penerbit Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 235.

[23]Ibid.

[24]Ibid,

[25]Ibid, 236.

[26] Kejadian 1:27; 2:7; 5:1.

[27]Kejadian 1:27-28; 2:7, 22; 3:20; 9:19.
[28]Roma 8:10.






BAB IV

KESIMPULAN


Meskipun banyak orang percaya kepada teori-teori yang dikemukakan oleh para ilmuan dan orang-orang besar tentang asal-usul manusia, tetapi sebagai anak-anak Allah seharusnya tetap berpegang dan percaya bahwa teori dari Alkitablah yang paling benar, karena sudah dibuktikan melalui sejarah dan ilmu pengetahuan, kendatipun tetap saja banyak yang belum percaya akan teori dari Alkitab ini.
Dalam membahas asal-usul manusia ini, penulis menemukan bahwa kesimpulan dari semua materi-materi dan teori-teori adalah merujuk pada satu tujuan yaitu mencari yang mana yang paling benar, di dalam Alkitab sangat jelas dikatakan bahwa manusia itu buatan langsung Allah, bukan mahluk hidup baru yang berubah dari mahluk hidup lain, bukan juga dari hasil adaptasi bumi atau apapun yang dikatakan orang.
Manusia juga diciptakan manurut gambar dan rupa Allah dalam hal itulah manusia berbeda dari ciptaan lainnya. Manusia adalah suatu pribadi yang utuh yang terbentuk dari roh, tubuh dan daging dalam satu jiwa atau nyawa.
Kesimpulan intinya adalah bahwa, manusia tercipta dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu tanah, seperti yang dikatakan dalam Kejadian 2:7.