BAB I
PENDAHULUAN
Jika melihat
tegnologi-tegnologi pada zaman ini, sangat banyak hal yang diciptakan oleh para
ilmuan yang membantu kehidupan manusia saat ini, mungkin dari beberapa ciptaan
itu akan didapati dimana terkadang suatu hal yang diciptakan tersebut tidak
masuk akal, sangat mengherankan mengapa hal itu bisa terjadi.
Berbicara
tentang bingung, seandainya saat ini ada pertanyaan menanyakan dari manakah
manusia berasal? Mengapakah manusia bisa berbentuk seperti ini? Bagaimana
sejarahnya? Mungkin akan lebih membingungkan lagi daei pada masalah tegnologi.
Sudah sejak dahulu para ilmuan mempelajari hal ini, membuat teori-teori tentang
asal mula manusia, sehingga dari sekian banyak ilmuan yang memperdebatkan
asal-usul manusia, manusiapun semakin bingung dengan pembahasan teori-teori
itu.
Dalam karya
tulis ini penulis akan membahas tentang asal-usul manusia melalui berbagai
teori, dan pada intinya penulis akan membahas sepuluh teori tentang asal-usul
manusia, termasuk dua teori besar yaitu teori evolusi dan teori Alkitab. Dalam
karya tulis ini juga penulis akan memberikan penjelasan tentang teori yang
manakah yang benar dari antara sepuluh teori tersebut.
BAB II
ASAL-USUL MANUSIA
Jika memikirkan keberadaan sebagai manusia maka setiap
orang akan memiliki kepercayaan sendiri akan asal mula atau kreasi keberadaan
manusia. Tapi dari begitu banyaknya manusia di dunia ini, tentu tidak semuanya mempercayai
teori yang sama. Berikut ini adalah sepuluh teori asal mula keberadaan manusia,
walaupun setiap orang sudah memiliki kepercayaan sendiri mengenai bagaimana
asal mula terbentuknya manusia.
Intelligent
Design
Intelligent Design atau Perancangan
Cerdas mengatakan bahwa “manusia
sebagai mahluk yang kompleks tidak dapat dijelaskan dalam sebuah teori yang
tidak terarah seperti seleksi alam (evolusi). sebagai manusia dapat dijelaskan
dalam sebuah teori yang lebih pintar.”[1] “Jika
setiap orang kurang dapat memahami penjelasan itu, maka bayangkan nenek moyang
manusia menemukan iPad di perjalanannya, kemungkinan besar ia akan mengenali
hal tersebut sebagai objek yang dibuat oleh manusia walaupun ia tidak tahu apa
sebenarnya benda itu. Kaitannya dengan teori ini adalah, peneliti diibaratkan
sebagai nenek moyang dan manusia sekarang diibaratkan sebagai iPad tersebut.”[2]
Intinya Intelligent Design mengatakan bahwa manusia dibuat oleh keberadaan yang
sangat luar biasa jenius.
Morphic
Resonance
“Seorang mantan professor biokimia di Universitas
Cambridge, menciptakan sebuah teori yang berbeda dari yang lain. Ia mengatakan
bahwa sebenarnya ada sebuah medan tidak terlihat yang membuat kita melihat
hal-hal yang sama, seperti bintang dan alam semesta. Jadi semua yang ada di
dunia ini sebenarnya merupakan hal yang telah disepakati secara telepati bahwa
mereka benar-benar ada.”[3]
Cosmic Ancestry
Jika teori-teori lain mengatakan bahwa alam semesta
ini memiliki awal yang pasti, baik itu melalui penciptaan Tuhan atau Big Bang,
maka tidak bagi Teori Cosmic Ancestry. “Teori ini mengatakan bahwa kehidupan
dan alam semesta ini memang dari awal selalu ada.”[4] Lalu
bagaimana menjelaskan mengenai dinosaurus, mikroba dan sejenisnya? “Teori ini
mengatakan bahwa karena mikroba merupakan hal yang pasti selalu ada di dunia
ini, maka mikroba ini membawa sisa-sisa akan kehidupan modern di alam semesta,
manusia berevolusi untuk mengikuti kehidupan modern tersebut. Seperti halnya
mikroba tersebut mengikuti kehidupan awal mula seperti dinosaurus dan
seterusnya.”[5]
Karena alam semesta ini akan selalu ada, maka hal ini akan selalu terjadi
selamanya dan terus menerus.
Ancient
Astronaut
Ide umum dari teori ini adalah alien datang ke bumi
berjuta-juta tahun yang lalu dan menabur kehidupan, baik untuk tujuan masa depan
atau ketidaksengajaan. “ Uniknya, orang-orang yang mempercayai teori ini juga
mengatakan bahwa bangunan Piramid dan hal-hal serupa adalah bukti bahwa
Alien-lah yang mengarahkan perkembangan evolusi manusia, bahkan teori lain yang
berdasar dari teori ini mengatakna bahwa Dewa-dewa dari hampir seluruh agama
adalah sebenarnya mahluk terestial (alien).”[6]
Progressive
Creationism
Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Bumi
dan isinya selama 6 hari kemudian di hari ketujuh Ia menguduskannya. Tapi yang
tidak orang tahu adalah masing-masing dari hari itu sebenarnya adalah jutaan
tahun dan berisikan banyak evolusi.
“Inilah yang diusulkan di teori Progressive
Creationism (Penciptaan Progresif).
Teori ini mengatakan bahwa Tuhan membuat bumi secara perlahan-lahan dimana
tanaman dan hewan membutuhkan waktu untuk beradapatasi agar mereka dapat cocok
dengan kehidupan di dunia.”[7]
Intinya teori ini mengatakan bahwa tidak ada spesies yang secara langsung
tiba-tiba muncul sebagai bentuk yang baru. Jadi teori ini sebenarnya juga
adalah teori evolusi.
Punctuated
Equilibirium
“Teori ini mengatakan bahwa jika evolusi adalah sebuah
proses yang bertahap maka seharusnya penemuan-penemuan fosil memberikan manusia
banyak fosil yang menunjukkan proses transisi tersebut.”[8] Tapi
pada kenyataannya hal tersebut tidak ada. Ini karena evolusi sebenarnya terjadi
dalam sebuah proses yang sangat mendadak dan cepat.
“Sesudah bertahan selama jutaan atau bahkan miliaran
tahun, perubahan lingkungan menyebabkan sebuah spesies mengalami evolusi
tersebut. Karena adanya perubahan lingkungan, maka hanya si mahluk baru inilah
yang dapat bertahan hidup sedangkan nenek moyangnya muncul dalam bentuk fosil.”[9]
Scientology
“Teori ini mengatakan bahwa manusia berevolusi dari
burung ke hewan lainnya lalu ke monyet, sebelum menghabiskan waktu ribuan tahun
sebagai manusia purba.”[10]
Karena manusia merupakan produk dari berbagai hewan yang ada sebagai hasil
evolusi dari satu hewan ke hewan lainnya dan berakhir sebagai manusia. Maka itu
jugalah yang menyebabkan mengapa kita memiliki kepribadian yang unik
dibandingkan hewan lainnya, dimana kita mengalami perasaan yang tidak dialami
hewan lainnya.
Theistic
Evolution
Theistic Evolution adalah salah satu dari 3 teori
utama yang menjelaskan mengenai asal mula manusia. Dua lainnya adalah teori
evolusi Darwin (teori atheistic) dan teori penciptaan khusus (agama). Teori ini
sebenarnya serupa dengan progressive creationism.
Jika para pemercaya agama mengatakan bahwa evolusi
menentang keberadaan Tuhan, maka Theistic Evoluton adalah teori yang menerangkannya.
“Ide utamanya tetap Tuhan yang menciptakan alam semesta dan isinya, hanya saja
kali ini Ia menciptakannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan, yaitu Big Bang,
fisika kuantum dan seterusnya.”[11]
Menurut teori ini alam semesta ini merupakan hasil
dari Tuhan sebagai professor menggabungkan berbagai jenis atom dalam
laboratorium suci pengetahuan-Nya. Teori ini membuat para pemercaya agama tidak
lagi menghabiskan waktu mereka berdebat akan agama dan pengetahuan, karena
teori ini menjadi penjelasannya.
Teori
Evolusi Darwin
Salah satu teori yang paling dikenal mengenai
keberadaan manusia, dimana ia mengatakan bahwa manusia sebenarnya berasal dari
monyet yang berevolusi dalam jangka waktu lama hingga menjadi manusia purba dan
manusia purba tersebut berevolusi lagi menjadi manusia modern seperti manusia
ini. Semua evolusi tersebut memakan jangka waktu yang sangat lama. Ini adalah
teori yang melambangkan pengetahuan di mata para ilmuwan.
Penciptaan
Khusus (Agama)
Ini adalah teori penciptaan seperti pada di
agama-agama dimana “Tuhanlah yang menciptakan Bumi dan alam semesta serta
manusia di dalamnya dalam waktu 6 hari 24 jam setiap harinya. Dimana Bumi
sebenarnya hanyalah berumur 6.000 tahun dan Tuhan menciptakan setiap halnya
secara khusus benar-benar untuk hal tersebut,”[12]
berbeda halnya dengan teori evolusi yang mengatakan bumi berumur miliaran
tahun. Teori ini dipercaya oleh banyak orang sesuai dengan jumlah orang yang
percaya dengan agama-agama utama di dunia ini. Teori inilah yang melambangkan
agama, dan membuat perseteruan tiada akhir antara teori darwin dengan teori ini
sendiri.
[1]Yusuf Randi, Teori Dasar Asal Usul Manusia, http://www.sacred.com/index.html, diakses tanggal 12 Oktober 2016.
[2]Ishak
coeng, Teori-teori Asal Usul Manusia,
http://tahupedia.com,
diakses tanggal 12 Oktober 2016.
[3]Yusuf Randi, Teori Dasar Asal Usul Manusia, http://www.sacred.com/index.html, diakses tanggal 12 Oktober 2016.
[4]Ibid.
[5]Ibid.
[6]Ishak coeng, Teori-teori Asal Usul Manusia, http://tahupedia.com, diakses tanggal 12 Oktober 2016.
[7]Ibid.
[8]Ibid.
[9]Ibid.
[10]Ibid
[11]Ishak coeng, Teori-teori Asal Usul Manusia, http://tahupedia.com, diakses tanggal 12 Oktober 2016.
[12]Ibid.
BAB III
PERBANDINGAN DUA
TEORI BESAR
Ada berbagai
teori yang membahas tentang manusia dan yang paling mencolok yaitu teori
evolusi dan teori Alkitab. Memang benar bahwa setiap manusia memiliki pandangan
tersendiri tentang asal-usul manusia namun jika semua teori-teori tersebut
dikumpulkan maka sebagian besar teori-teori tersebut akan mengacu pada dua
teori besar ini. Kedua teori ini akan penuls bahas satu persatu.
Asal-usul manusia menurut teori evolusi
Louis Berkhof
mengatakan dalam bukunya bahwa :
Teori evolusi
tidaklah selalu dinyatakan dalam bentuk yang sama. Teori ini kadang-kadang
disebutkan seolah-olah manusia adalah keturunan langsung dari salah satu
spesies manusia kera yang sekarang ini ada dan seolah-olah manusia dan kera
yang lebih tinggi mempunyai nenek moyang yang sama. Akan tetapi betapapun ada
beberapa hal berbeda dengan hal ini, datu hal yang pasti adalah bahwa menurut
evolusi naturalistik yang masih terus ada, manusia melalui sebuah proses
alamiah yang sempurna, yang diatur secara langsung oleh kekuatan yang terus
menerus.[1]
Teori
ini adalah teori yang paling masuk akal dalam ilmu pengetahuan dan itu berarti
teori inilah yang menjadi tolak pikir manusia saat ini sehingga teori ini
sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Jika disederhanakan, teori evolusi
mengatakan bahwa manusia itu berasal dari sejenis binatang bertulang beakang
yang berubah seiring denga berjalannya waktu selama ribuan tahun. Evolusi
sendiri
berarti
“perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan
perlahan-lahan.”[2]
Jadi manusia itu tercipta karena adanya perubahan secara perlahan-lahan atau
berangsur-angsur dari mahluk hidup sebelumnya.
Sejarah
teori evolusi
“Teori evolusi merupakan buah filsafat
materialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafat‐filsafat materialistis kuno dan kemudian
menyebar luas di abad ke‐19.
Karena menolak penciptaan, pandangan ini
menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui
penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai
kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga
mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia
menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan
karakteristik paling mendasar akal manusia ini , memunculkan "teori
evolusi" dipertengahan abad ke‐19.
“Darwin Orang yang mengemukakan teori evolusi
sebagaimana yang dipertahankan dewasa ini, adalah seorang naturalis amatir dari
Inggris, CharlesRobertDarwin. Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal
di bidang biologi.Ia hanya memiliki ketertarikan amatir pada alam dan makhluk
hidup.Minat tersebut mendorongnya bergabung secara sukarela dalam ekspedisi
pelayaran dengan sebuah kapal bernama H.M.S.Beagle,yang berangkat dari Inggris
tahun 1832 dan mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun.”[3]
Darwin muda sangat takjub melihat beragam
spesies makhluk hidup,terutama jenis‐jenis
burung finch tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada
paruh burung‐burung tersebut disebabkan
oleh adaptasi mereka terhadap habitat.
Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal
usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep "adaptasi terhadap
lingkungan". Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan
secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan
menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.
Hipotesis Darwin tidak berdasarkan penemuan atau
penelitian ilmiah apapun, tetapi kemudian ia menjadikannya sebuah teori monumental
berkat dukungan dan dorongan para ahli biologi materialis terkenal pada
masanya. Gagasannya menyatakan bahwa individu‐individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan
menurunkan sifat‐sifat
mereka kepada generasi berikutnya.
Sifat‐sifat
yang menguntungkan ini lama‐kelamaan
terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali
berbeda dengan nenek moyangnya. Menurut Darwin, manusia adalah hasil paling
maju dari mekanisme ini. Darwin menamakan proses ini "evolusi melalui
seleksi alam". Ia mengira telah menemukan "asal usul spesies" suatu
spesies berasal dari spesies lain.
“Darwin sadar bahwa teorinya menghadapi banyak
masalah. Kesulitan- kesulitan ini terutama pada catatan fosil dan organ‐organ rumit makhluk hidup (misalnya mata) yang
tidak mungkin dijelaskan dengan konsep kebetulan, dan naluri makhluk hidup.
Darwin berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan‐penemuan baru; tetapi bagaimanapun ia tetap
mengajukan sejumlah penjelasan yang sangat tidak memadai untuk sebagian
kesulitan tersebut.”[4]
Saat menyusun teorinya, Darwin terkesan oleh
para ahli biologi evolusionis sebelumnya, terutama seorang ahli biologi
Perancis, Lamarck. Menurut Lamarck, makhluk hidup mewariskan ciri‐ciri yang mereka dapatkan selama hidupnya dari
satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga terjadilah evolusi. Sebagai
contoh, jerapah berevolusi dari binatang yang menyerupai antelop. Perubahan itu
terjadi dengan memanjangkan leher mereka sedikit demi sedikit dari generasi ke generasi
ketika berusaha menjangkau dahan yang lebih tinggi untuk memperoleh makanan. Darwin
menggunakan hipotesis Lamarck tentang "pewarisan sifat‐sifat yang diperoleh" sebagai faktor yang
menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Sejak abad ke‐6 ,para ahli sudah mencoba mengemukakan pendapatnya
tentang alam. Beberapa pandangan teori evolusi menurut beberapa ahli sebagai
berikut:
“Erasmus Darwin
Menyatakan bahwa makhluk hidup berawal dari asal mula yang sama dan respon
fungsional di wariskan kepada keturunannya.
Count de Buffon
Count de Buffon
Menyatakan bahwa variasi kecil yang
terjadi karena pengaruh lingkungan diwariskan pada keturunannya sehingga
terjadi penimbunanvariasi.
George Cuvier
George Cuvier
Menyatakan bahwa setiap masa
diciptakan makhluk hidup yang berbeda.
Jean Baptist de Lamarck
Jean Baptist de Lamarck
Mengemukakan teori evolusi yang dikenal dengan “Ussed and Disused”. Lamarck
mengemukakan teori evolusi dengan 2 ajarannya yaitu bahwa organ tubuh makhluk
hidup yang digunakan akan berkembang, sedangkan yang tidak digunakan akan
menyusut dan perbedaan sifat yang diperoleh dari pengaruh lingkungan diwariskan
kepada keturunannya.
A.Weisman
A.Weisman
Melakukan percobaan dengan memotong ekor tikus sampai 20 generasi,ternyata
generasi ke 21 tetap berekor panjang. Dari hasil percobaan ini Weisman
membantah membantah teori Lamarck dan menyatakan bahwa evolusi adalah seleksi
alam terhadap faktor genetik.”[5]
Setelah itu bermunculan pendapat dari para ahli
biologi lainnya. Para ahli
dimiliki oleh nenek moyangnya. Tetapi pada generasi selanjutnya, biologi menyatakan bahwa makhluk hidup senantiasa mengalami perubahan secara berangsur – angsur dalam waktu yang cukup lama.
dimiliki oleh nenek moyangnya. Tetapi pada generasi selanjutnya, biologi menyatakan bahwa makhluk hidup senantiasa mengalami perubahan secara berangsur – angsur dalam waktu yang cukup lama.
Perubahan – perubahan itu mengakibatkan
munculnya sifat baru. Sifat–sifat baru ini pada mulanya hanya menunjukkan
penyimpangan sedikit saja dari sifat‐sifat
yang penyimpangan‐penyimpangan
itu semakin banyak sehingga timbullah species baru.
Argumen pendukung
teori evolusi
Ada
beberapa argumen yang mendukung teori evolusi diantaranya anatomi perbandingan,
organ-orga tertinggal, embriologi, biokimia, paleotologi an genetika. Namun
penulis hanya akan membahas beberapa argumen saja karena hal itulah yang paling
berpengarh terhadap teori ini.
Yang
pertama adalah anatomi perbandingan, “terdapat kesamaan-kesamaan mencolok
antara anatomi manusia dengan anatomi hewan bertulang belakang dari golongan
yang lebih tinggi.”[6] Anatomi perbandingan dapat diketahui bahwa alat
- alat fungsional pada berbagai binatang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: “homologi
dan analogi. Homologi adalah alat tubuh yang mempunyai bentuk yang berbeda dan
fungsinya berbeda namun kalau diteliti mempunyai bentuk dasar yang sama.
Misalnya:sirip ikan paus fungsinya untuk berenang, homolog dengan kaki depan kuda
yang fungsinya untuk terbang. Analogi adalah alat tubuh yang mempunyai bentuk
dasar yang berbeda namun karena perkembangan evolusi yang konvergen alat-alat
tersebut mempunyai fungsi yang sama.”[7]
Yang kedua adalah organ-organ yang tertinggal, alat
alat ini sudah tidak berguna namun ternyata masih dijumpai. “Di dalam tubuh
kita ditemukan organ-organ, misalnya amandel, usus buntu, serta kelenjar timus
yang menurut golongan evolusionis diperlukan ketika manusia modern dalam tahap
perubahan”[8]
Yang ketiga adalah embriologi, “janin
manusia berkembang melalui aneka tahap
yang sejajar dengan tahap yang disebut evolusioner.”[9]
Urutan tahapan perkembangan embrio dari hewan–hewan tingkat tinggi adalah:
zigot-morula-blastula-gastrula-kemudian mengalami diferensiasi dan spesialisasi
membentuk organ. Perkembangan individu mulai dari sel telur dibuahi (zigot) hingga
individu sampai dewasa bahkan sampai mati disebut ontogeni. Terdapat kesamaan
tahap – tahap perkembangan embrio hewan –hewan vertebrata sampai pada tahap
tertentu.
Yang keempat adalah Fosil. “Fosil sebagai
catatan sejarah evolusi makhluk hidup. Fosil adalah sisa atau jejak dari makhluk
hidup yang telah membatu. Contoh fosil yang paling lengkap ditemukan dari zaman
ke zaman adalah fosilkuda. Perubahan yang terjadi pada spesieskuda antara lain:
leher semakin panjang dan gerakan makin lincah kepala semakin panjang,jarak
ujung mulut dengan mata semakin panjang. Tubuh kuda semakin besar. Geraham muka
dan belakang bertambah besar sesuai untuk mengunyah rumput. Anggota tubuh
semakin panjang,dapat berlari cepat,rotasi tubuh semakinberkurang. Jumlah jari
kaki pada mulanya 5,sekarang tingal 1 jari saja.”[10]
Yang kelima adanya variasi individu dalam satu
keturunan Dari proses hibridasi dapat menghasilkan bermacam-macam varian. Apabila
proses itu berlangsung terus-menerus dalam waktu yang sangat panjang akan
terbentuk sangat banyak variasi-variasi, akibatnya keturunannya akan mempunyai
sifat yang menyimpang jauh dengan nenek moyangnya.
Yang keenam yaitu fosil hidup. “penelitian
adanya fosil hidup dengan umur awal sampai jutaan tahun lalu, benar‐benar membuktikan bahwa teori evolusi
(hipotesis) atau neo-darwinisme atau lompatan evolusi tidak berlaku pada hewan
yang bernama Coelacanth.”[11]
Yang ketujuh, adanya pengaruh penyebaran
geografi. Burung –burung finch di kepulauan Galapagos semula berasal dari
daratan Amerika Selatan,kemudian menemukan lingkungan yang baru yang berbeda
dengan asalnya. Varian–varian yang menemukan lingkungan baru itu terus
berkembang sehingga menghasilkan spesies baru dan tidak dapat mengadakan inter
hibridasi dengan moyangnya.
Namun begitu, tetap saja semua itu belum tentu
selalu dibenarkan oleh semua orang, selalu saja ada yang menolak
argumen-argumen tersebut.
Argumen yang menolak teori evolusi
Teori yang telah dipikrkan sedemikian rupa itu
tentu saja menimbulkan keberatan-keberatan.
Pertama “bahwa teori ini tidak mempunyai dasar
yang cukup di atas fakta yang pasti. Kita harus senantiasa ingat bahwa teori
evolusi secara umum walaupun secara umum menyebut diri sendir doktrin yang
sudah mantab, sampai saat inipun sebenarnya masih berupa hipotesa kerja yang
belum terbukti kebenaranya, dan hipotesa ini sendiri tidak memberikan janji
bahwa kebenaranya akan terbukti.”[12]
Yang kedua, “dari sudut pandang Teologi
keberatan terbesar terhadap teori ini dikarenakan pendapat teori evolusi jelas
bertentangan dengan ajaran yang jelas dari Firman Tuhan. Alkitab menegaskan
bahwa Allah membentuk manusia dari debu tanah (Kej. 2:7).”[13]
Sama sekali tidak ayat yang mejelaskan bahwa manusia itu awal mulanya berasal
dari binatang atau sejenisnya, Alkitab mencatat “dengan berpeluh engkau akan
mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situla
engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu,”[14]
bukan kembali menjadi kera, jadi teori evolusi itu salah bagi umat Kristen.
Banyak umat Kristen yang akhirnya bingung dengan teori ini dan kemudian menjadi
bimbang dengan Alkitab. “Paus Pius XII dalam inskliknya berjudul Humani Generis (1950) mengatakan,
“ajaran Gereja membiarkan ajaran evolusi sebagai suatu masalah yang terbuka,
selama ajaran-ajaran ini membatasi teorinya pada perkembangan tubuh manusia
yang dijadikan dari zat hidup lainnya yang sudah ada.”[15]
Menurut Jurgen Moltman, ada tiga jenis
antropologi, yaitu antropologi biologis, kultural dan antropologi agama.”[16]
“menurut Moltmann manusia adalah mahluk yang manusiawi sebagaimana yang
terlukis pada salib. Tetapi persoalannya adalah apakah manusia dapat membuat
dirinya manusiawi? Bagaimanakah manusia menjadi manusiawi?.”[17]
Menurutnya manusia bukan hanya nyata tapi manusia juga adalah suatu nilai yang
ideal.
Asal-usul manusia menurut Alkitab
Di dalam Alkitab ada dua bagian yang mejelaskan
tentang penciptaanm yaitu dalam “Kej. 1:26, 27 dan Kej. 2:7, 21-23. Penganut kritik
tinggi (higher critism) berpendapat
bahwa penulis kitab Kejadian (menyatukan) dua buah cerita tentang penciptaan,”[18]
penciptaan yang pertama adalah penciptaan yang tercatat dalam Kej. 1- 2:3,
penciptaan yang kedua yang tercatat dalam Kej. 2:4-25; menurut mereka, kedua
catatan ini berdiri sendiri bahkan saling bertentangan. Hal tersebut memang
benar karena pada bagia yang pertama yaitu pada Kej. 1-2:3 bercerita tentang
penciptaan segala sesuatu, sedangkan yang kedua yaituKej. 2:4-25 bercerita
tentang hubungan penciptaan dengan manusia, tanpa bermaksud menjelaskan apapun
tentang susunan kronologis penciptaan itu sendiri. Ada beberapa hal khusus yang
membedakan penciptaan khusus manusia berbeda dengan ciptaan yang lain, yaitu
“penciptaan manusia didahului oleh suatu pertimbangan yang agung” (Kej. 1:26),
penciptaan manusia ada dalam pengertian paling sempit kata ini adalah tindakan
Allah secara langsung, manusia diciptakan menurut contoh Illahi, dua elemen
berbeda dari natur manusia jelas dibedakan (Kej. 2:7), manusia ditempatkan
dalam kedudukan mulia.”[19]
Ketika manusia menciptakan manusia, Ia berkata
“marilah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita,”[20]
dan “ketika itu Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas
kehidupan kedalam hidungnya,”[21]
manusia itu diciptakan langsung oleh Allah, oleh tangan Allah sendirilah
manusia itu terbentuk, Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan
menggunakan ciptaan-Nya yang lain kemudian ciptaa tersebut berubah atau
berevolusi menjadi manusia. Jika memeang benar Allah tidak secara langsung
menciptakan manusia, berarti pada saat penciptaan Allah membuat sejenis
binatang yang Alkitab sebut manusia, bukan manusia seperti sekarang ini.
Argumen yang mendukung penciptaan manusia
secara langsung
Bila Alkitab ditafsirkan secara harafiah maka
dari situ dapat muncul penjelasan yang masuk akal, Alkitab menjelaskan dalam
“Kejadian 1:27; 5:1; Ulangan 4:32; Mazmur 104:30; Yesaya 45:12; 1 Korintus
11:9, bahwa manusia ciptakan oleh Allah,”[22]
Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa manusia ada dari proses perubahan dari
ciptaan sebelumnya, atau menciptakan binatang bernama manusia. Sangatlah jelas
ayat-ayat ini menjelaskan awal dari penciptaan manusia bahkan prosesnyapun
Alkitab jelaskan denga sangat baik sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk
membenarkan teori lain, kemudian dalam “Kejadian 1:26; 2:22; 6:6-7; Mazmur
100:3; 103:14; 1 Timotius 3:13 bahwa Allah menjadikan dan membentuk manusia.”[23]
Mengenai tubuhnya, manusia diciptakan dari debu tanah, dan mengenai jiwanya,
diciptakan dari nafas Allah, “hal ini terdapat dalam Kejadian 2:7; Ayub 33:4;
Pengkhotbah 12:7.”[24]
Dalam Kejadian 1:27 dijelaskan juga bahwa Adam
dan Hawa diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, seandainya saat itu Allah
menciptakan manusia bukan dalam bentuk manusia pastilah Alkitab akan
menyebutnya jantan dan betina. Ketika manusia diciptakan maka manusia menjadi
mahluk hidup. Manusia bukan mahluk hidup yang lahir dari mahluk hidp sebelumnya,
ia langsung menjadi mahluk hidup tersendiri. “Alkitab membedakan antara daging
manusia dan daging hewan, dalam 1 Korintus15:39 dijelaskan bahwa Rasul Paulus
tidak mengijinkan ada percampuran antara daging manusia dan daging hewan.”[25]
Penciptaan manusia adalah penciptaan yang unik dam khusus, karena manusia
diciptakan pada hari terakhir, puncak dari segala penciptaan di bumi dan Allah
sendiri yang mengatakan bahwa “itu adalah amat baik” (Kej. 1:31). Alkitab bahwa
manusia bukanlah produk evolusi tapi manusia adalah “buatan langsung tangan
Allah”[26]
dan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kesamaan itu bukan dalam
artian kesamaan fisik tetapi kesamaan spiritual, natural dan moral. Kesamaan
spiritual yaitu manusia yang telah menjadi manusia baru dimungkinkan untuk
dapat bersekutu dengan Allah, kesamaan secara natural, manusia memiliki akal
budi, emosi dan kehendak untuk menjalani hidupnya sendiri dan kesamaan moralnya
manusia dapat mengtahui dan menaati kehendak Allah.
Kesatuan manusia
Oleh karena
manusia diciptakan oleh satu pencipta maka itu berarti semua umat manusia
diciptakan oleh “satu pasangan tunggal”[27]
yang kemudian terpecah seperti yang dikatakan dalam sejarah menara Babel.
Beberapa
arugumen yang mendukung kesatuan umat manusia adalah, sejarah bangsa-bangsa dan
suku-suku bangsa di dunia yang membuktikan adanya asal-usul nenek moyang yang
sama. Bukti adanya keseragama bahasa berkaitan dengan ilmu bunyi bahasa,
susunan tata bahasa dan perbendaharaan kata. Pernikahan antar bangsa
meghasilkan keturunan baru. Setiap manusai memiliki sifat-sifat mental dan
moral manusia yang sama.
Struktur manusia
Secara umum
manusia memiliki sifat-sifat jasmani dan rohani. Jasmani ialah tubuh dan rohani
ialah jiwa dan rohnya. Secara khusus manusia meiliki empat unsur yaitu nyawa
atau jiwa, roh, daging dan tubuh. Nyawa yaitu diri atau kepribadian manusia,
roh yaitu kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan Allah, daging yaitu
kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan iblis dan tubuh yaitu bentuk bagi
nyawa atau jiwa atau diri manusia.
Ada beberapa hal yang sering dibandingkan yaitu
tentang manusia rangkap dua (dikotomi) atau rangkap tiga (trikotomi). Dikotomi
adalah pandangan yang beranggapan bahwa manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa
saja. Sedangkan trikotomi itu adalah pandangan bahwa manusia itu terdiri dari
tubuh, jiwa dan roh. Gereja-gereja barat umumnya menerima dikotomis, sedangkan
Gereja-gereja barat umumnya menerima trikotomis. Sebaliknya Alkitab memandang
manusia sebagai suatu pribadi yang rumit dan tegang. Manusia sebagai pribadi
yang rumit karena memiliki roh, tubuh dan daging dalam satu jiwa atau nyawa.
Manusia disebut pribadi yang tegang karena unsur-unsur yang dipersatukan dalam
diri manusia itu saling bertentangan satu sama lain. Paulus mengatakan suratnya
kepada jemaat di Roma tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang
mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”[28]
Jadi sebanarnya manusia merangkap semuanya itu,
dan setiap bagian tersebut memiliki fungsinya masing-masing sehingga sebenarnya
hal tersebut tidak bisa dipisakan, karena manusia terbentuk dari beberapa hal
tersebut. Sebagai umat Kristen seharusnya tahu apa yang dapat dipercaya dan
yang tidak dapat dipercaya tentang teori-teori itu.
[1]Louis
Berkhof, Teologi Sistematika, pen.
Yudha Thianto, (Surabaya: momentum, 1994). 9.
[2]Kamus
Besar Bahasa Indonesia Elektronik, (KBBI), 11-11-2016.
[6]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Gandum Mas,
(Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 233.
[8]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit
Gandum Mas, 1997), 233.
[12]Louis Berkhof, Teologi Sistematika, pen. Yudha Thianto,
(Surabaya: momentum, 1994), 11.
[13]Ibid,
12.
[14]Kejadian
3:19.
[15]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Yayasan
Penerbit Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 232.
[16]Jacobus Soleiman Siwalette, Manusia Menurut Jurgen Moltmann, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1991), 22.
[17]Ibid,
28.
[18]
Louis Berkhof, Teologi Sistematika, pen. Yudha Thianto,
(Surabaya: momentum, 1994), 4.
[19]
Ibid, 6-8.
[20]Kejadian
1:26.
[21]
Kejadian 2:7.
[22]Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, pen. Yayasan
Penerbit Gandum Mas, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), 235.
[23]Ibid.
[24]Ibid,
[25]Ibid,
236.
[26]
Kejadian 1:27; 2:7; 5:1.
[27]Kejadian
1:27-28; 2:7, 22; 3:20; 9:19.
[28]Roma
8:10.
BAB IV
KESIMPULAN
Meskipun
banyak orang percaya kepada teori-teori yang dikemukakan oleh para ilmuan dan
orang-orang besar tentang asal-usul manusia, tetapi sebagai anak-anak Allah
seharusnya tetap berpegang dan percaya bahwa teori dari Alkitablah yang paling
benar, karena sudah dibuktikan melalui sejarah dan ilmu pengetahuan, kendatipun
tetap saja banyak yang belum percaya akan teori dari Alkitab ini.
Dalam membahas
asal-usul manusia ini, penulis menemukan bahwa kesimpulan dari semua
materi-materi dan teori-teori adalah merujuk pada satu tujuan yaitu mencari
yang mana yang paling benar, di dalam Alkitab sangat jelas dikatakan bahwa
manusia itu buatan langsung Allah, bukan mahluk hidup baru yang berubah dari
mahluk hidup lain, bukan juga dari hasil adaptasi bumi atau apapun yang
dikatakan orang.
Manusia juga
diciptakan manurut gambar dan rupa Allah dalam hal itulah manusia berbeda dari
ciptaan lainnya. Manusia adalah suatu pribadi yang utuh yang terbentuk dari
roh, tubuh dan daging dalam satu jiwa atau nyawa.
Kesimpulan
intinya adalah bahwa, manusia tercipta dari debu tanah dan akan kembali menjadi
debu tanah, seperti yang dikatakan dalam Kejadian 2:7.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar